Bos Pertamina Buka-bukaan Jual Rugi Pertamax, Kenapa Nggak Dinaikkan

screenshot 2022 09 11 07 01 24 41

Jakarta – Dirgantara7.com | Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengakui jual rugi jenis bahan bakar minyak (BBM) Pertamax. Jadi sampai saat ini harga Pertamax yang sudah naik masih di bawah harga keekonomian.

 

Nicke mengatakan, upaya untuk menahan harga Pertamax agar perbandingan dengan harga Pertalite tidak jauh. Karena jika selisih harganya jauh dengan Pertalite sebagai BBM subsidi, akan semakin banyak yang menggunakan Pertalite.

“Pertamax itu kalau lihat kategori, di dalam regulasi adalah Jenis BBM Umum (JBU) yang harganya fluktuatif disesuaikan ICP.

Tetapi kita melihatnya Pertamax itu pemerintah itu mengendalikan juga harganya,” ujarnya dalam raker dengan Komisi VI Kamis kemarin, dikutip Sabtu (10/9/2022).

“Karena kalau Pertamax disesuaikan dengan market price maka lebih banyak lagi yang ke Pertalite which is itu akan membuat subsidi makin naik,” tambahnya.

Nicke melanjutkan selisih harga Pertamax yang sampai saat ini belum mencapai harga keekonomian, ditanggung sendiri oleh PT Pertamina (Persero). Tidak ada kompensasi dari pemerintah. Berkaitan dengan apakah Pertamina mendapatkan penggantian atas selisih Pertamax, anggota Komisi VI DPR RI sampai bersaut-sautan bertanya.

Untuk saat ini harga Pertamax naik dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. Sementara seharusnya dengan kurs dan harga minyak yang meningkat saat ini harganya Rp 17.300/liter. Harga itu jika dihitung dengan ICP US$ 105 dan kurs dolar Rp 14.700.

“Untuk Pertamax selisih itu yang menanggung Pertamina, pak. Jadi tidak diganti,tidak ada oleh… karena kan tidak masuk. JBT Solar dan JBKP Pertalite. Pertamax JBU secara aturan. Namun itu disesuaikan harga pasar, maka ini semua akan pindah ke Pertalite,” jelas Nicke.

Kemudian, di sela-sela Nicke menjelaskan anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid mempertanyakan dari mana Pertamina mendapatkan uang untuk menanggung selisih harga Pertamax yang dijual ke masyarakat.

“Diambil duit dari mana itu, Bu selisihnya? Nompok selisihnya?” tanya Nusron.

Mendengar pertanyaan itu, Nicke langsung tersenyum. Kemudian Nicke menjawab bahwa pihaknya memiliki strategi dengan cara subsidi silang.

“Ini kan namanya jualan kita maintain bottom line, ada subsidi silang kita lakukan dan sebagainya. Itu lah BUMN-itulah BUMN yang membedakan karena kan ikut membantu daya beli masyarakat,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Kemudian anggota Komisi VI DPR RI lainnya bertanya, apakah Pertamax mendapatkan kompensasi juga. “Pertamax itu dapat kompensasi juga kan, Bu?” ujar salah satu anggota.

Nicke menjawab bahwa, selisih Pertamax sampai saat ini ditanggung sendiri oleh Pertamina. “Nggak ada, Itu beban Pertamina,” lanjutnya.

Anggota Komisi VI lainnya juga menegaskan pertanyaan bahwa Pertamina telah menjual Pertamax rugi. “Jadi jual rugi dong ya,?” tanya kepada Nicke.

“Disampaikan tadi, secara bottom line, secara produk iya rugi. Tetapi yang kita jaga di bottom line jangan sampai bottom line-nya rugi,” jawab Nicke.

Lebih lanjut, Nusron Wahid menyampaikan keheranannya mengapa Pertamina sampai mau rugi dan berkorban. “Nilai strateginya sampai mau rugi,” ujar Nusron.

“BUMN, Pak,” jawab Nicke.

“Ya BUMN-BUMN, ko mau berkorban?”

Nicke pun menjawab bahwa Pertamina menjalankan bisnis dari hulu ke hilir.

Pada saat harga minyak naik, maka perusahaan mendapatkan keuntungan dari bisnis hulu. Nah keuntungan di hulu itu yang dijadikan Pertamina untuk subsidi silang menutupi kerugian dari penjualan produk yang rugi.

“Pertamina ini kan hulu ke hilir, pada saat harga minyak naik maka kita dapat windfall dari keuntungan di hulu, kita dapat beban di hilir. Inilah yang kemudian terjadi subsidi silang yang akhirnya di tahun lalu kita masih membukukan keuntungan,” jelasnya.

“Jadi itu di situ, kaya kita dagang dengan beberapa produk subsidi silang dan itu kita coba sedemikian rupa,” pungkasnya. (**)

Copyright © 2021 Buserdirgantara7.com