Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Beritaormas

Dibuka Hingga 24 Oktober, Museum Keliling Koleksi Kepresidenan Pamerkan Alunan Melodi Presiden

buserdirgantara7
63
×

Dibuka Hingga 24 Oktober, Museum Keliling Koleksi Kepresidenan Pamerkan Alunan Melodi Presiden

Sebarkan artikel ini
Img 20231021 Wa0071

Bogor,–Dirgantara7.com // Museum Keliling Koleksi Kepresidenan yang memamerkan Alunan Melodi Presiden di Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti dibuka sejak 18 Oktober 2023 hingga 24 Oktober 2023.

Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi dari Museum dan Cagar Budaya Unit Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti bersama Kementerian Sekretariat Negara, Pusat Studi Arsip Kepresidenan Arsip Nasional Republik Indonesia, Pemerintah Kota Bogor, Yayasan Bung Karno, Museum Purna Bhakti Pertiwi, Yayasan Habibie dan Ainun, Pojok Gus Dur, serta Irama Nusantara

Museum Keliling Koleksi Kepresidenan, Alunan Melodi Presiden ini dibuka oleh Wali Kota Bogor, Bima Arya bersama, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Fitra Arda, Plt. Kepala Museum dan Cagar Budaya, Ahmad Mahendra, Kepala Biro Pengelolaan Istana, Dharmastuti Nugroho secara secara simbolis dengan menabuh gendang.

Bima Arya mengatakan Museum keliling ini menampilkan dimensi humanis, koleksi, penyanyi favorit dan lainnya, sebagai cara lain memperkenalkan dan mengenal pemimpin melalui hobi.

“Dan pendekatan ini untuk anak-anak sekarang Gen Z, milenial pendekatanya sangat cocok,” katanya, Rabu (18/10/2023).

Koleksi yang ditampilkan dalam Museum keliling ini diantaranya adalah tentang musik tradisi sebagai identitas bangsa seperti halnya musik Lenso awalnya merupakan musik tradisi yang berasal dari Maluku kemudian dipopulerkan oleh Presiden Soekarno dan dipromosikan sebagai alternatif terhadap musik luar, seperti tango, cha cha rock ‘n roll  yang sangat digemari muda-mudi di akhir dekade 1950-an dan awal dekade 1960-an.

Bahkan, Presiden Soekarno juga mempopulerkan Gamelan, yang dalam narasi museum keliling ini disebutkan pada 26 agustus 1965 Presiden Soekarno berpesan dalam pidatonya yang bertajuk bangunkan kebudayaan rakyat di Istana Negara menghendaki agar setiap desa memiliki gamelan.

Di Kota Bogor saat ini juga sedang dibangun museum yang merupakan komitmen untuk menitipkan pada generasi muda tentang pentingnya masa lalu dan tentang pentingnya belajar dari pemimpin hebat di masa lalu.

“Ini kita ikhtiarkan secara maksimal. Di Bulan Desember Insya Allah ada dua museum yang akan selesai dibangun. Pertama museum di Batutulis depan Istana Batutulis di lokasi prasasti Batutulis sedang dibangun untuk menghidupkan kembali kebesaran kerajaan pajajaran, Kedua di Perpustakaan Kota Bogor juga dibangun satu lantai penuh Bumi Pariwara museum tentang pemimpin Bogor dari masa ke masa,” ujarnya.

Museum Keliling Koleksi Kepresidenan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-9 Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti di Kota Bogor

Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Fitra Arda mengatakan museum ini terbuka untuk bisa dikunjungi masyarakat umum.

“Karena ini dibuat dengan berbagai rangkaian, ada pameran temporer, panggung budaya, tour sejarah, lokakarya, pojok ekspresi itu permainan tradisional ya, terus ada nonton bareng,” ujarnya.

Selain menampilkan koleksi dan narasi tentang musik klasik. Museum ini juga menjelaskan tentang musik hiburan yang didengarkan dari radio RRI oleh para pemuda pada zamannya sesuai dengan keseharian presiden dari masa Presiden Soeharto hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pada Museum ini juga ditampilkan narasi tentang musik lokal yang didengarkan oleh Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gusdur, Megawati hingga SBY.

Tak hanya itu, dalam Museum keliling ini juga dipamerkan Kaset Pita, CD, dan IPod hingga radio klasik yang digunakan para presiden untuk mendengarkan musik favoritnya hingga foto-foto ketika sang presiden sedang mendengarkan musik ataupun menyaksikan penyanyi favoritnya

Museum ini kata Fitra Arda memiliki sasaran untuk seluruh masyarakat terutama generasi muda saat ini. “Karena merekalah pengganti estafet tongkat kepemimpinan kedepan,” katanya.

(Dede Hanapi)