Gajian sering terlambat, pekerja proyek Pemkot gelisah.

  • Bagikan

Dirgantara7.Com//Mojokerto – Warga Kota Mojokerto patut bangga, karena Pemerintah Kota Mojokerto saat ini sedang membangun jalan akses yang menghubungkan antara Raya Randugede dengan Raya Semeru.

Proyek pembangunan jalan Empu Gandring Barat yang menyedot anggaran sebesar ±1.6 milliar dari Silpa DAK ini, merupakan akses jalan tembusan yang memberikan manfaat bagi warga masyarakat, terutama para pelajar yang bersekolah di SMPN 9 Kota Mojokerto, karena bisa mempersingkat jarak sekaligus waktu tempuh dari rumah menuju ke sekolah.

Namun dibalik kebahagiaan warga Kota Mojokerto perlu diketahui juga, bahwa nasib para pekerja bangunan tiap hari Sabtu bukannya bahagia bisa pulang sore dan bermanja dengan keluarga sambil menikmati hasil jerih payah kerja selama sepekan di proyek, justru ada beberapa pekerja yang tak sengaja ditemui awak media pada Sabtu (30/10/2021) sekira pukul 16.30 wib, belum pulang dengan alasan mandor belum datang untuk memberikan gaji mereka yang sudah dijanjikan akan dibayarkan tiap dua Minggu sekali pada para pekerja tersebut.

Baca juga:  Setiap Libur Akhir Pekan, Polres Subang Gelar Pemberlakuan Sistem Ganjil Genap

Geno, Tukang Batu warga Randugede RT 02 RW 03 Kelurahan Kedundung,Kota Mojokerto dan beberapa teman lainnya tak berani pulang karena belum mendapatkan haknya,hal ini di alaminya tiap akhir pekan menjelang gajian, karena mandor sering terlambat membayarkan haknya ketika hari Sabtu.

Patut diduga CV Gapura Lentera Agung, selaku pelaksana pekerjaan mengesubkan lagi pekerjaannya pada pihak kedua, hal ini disampaikan senada oleh Geno pada awak media sore itu,”gaji saya dan teman-teman bukan dari CV yang namanya tertera pada papan proyek mas,tapi pekerjaan ini sudah disubkan lagi pada pihak lain oleh CV Gapura Lentera Agung, sehingga sering terjadi keterlambatan pembayaran upah pekerja yang sebenarnya tidak terlalu banyak, untuk tukang kita digaji Rp, 110.000,-/hari,sedangkan untuk pembantu/kuli disini cuma dibayar Rp, 85.000,- /hari,sehingga tukang dan kuli sering keluar masuk orang baru karena tidak kerasan dengan gaji yang rendah dan sering terlambat.”

Baca juga:  Jokowi Minta ASEAN Tangani Masalah Muslim Rohingya di Rakhine State

Sujiono, anggota LSM AMPUH Mojokerto memberikan tanggapan, “hendaknya, kedepan Pemerintah Kota Mojokerto lebih selektif lagi dalam mengkoreksi administrasi dan kelengkapan lain CV maupun PT yang ikut tender proyek, apakah CV/PT yang ikut tender proyek tersebut benar-benar dikerjakan sendiri atau dipihak kedua kan, karena jika kita amati ada beberapa yang cuma pinjam bendera CV/PT,kemudian untuk urusan pengerjaannya dipihak kedua kan(disubkan).”

“Jika hal ini terjadi lagi maka bisa dipastikan dengan mepetnya waktu sampai akhir tahun, bisa menjadikan pekerjaan dikerjaan secara tergesa-gesa sehingga menyebabkan kwalitas bangunan tidak sesuai spesifikasi yang ada di RAB,sekaligus akan mengurangi ongkos pekerjanya.” Tutup Sujiono.

Red/Thoyib

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 Buserdirgantara7.com