Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Beritaormas

Mahasiswa se-Nusantara Belajar Keberagaman ke Kota Bogor

buserdirgantara7
64
×

Mahasiswa se-Nusantara Belajar Keberagaman ke Kota Bogor

Sebarkan artikel ini
Img 20231127 Wa0039

Bogor,–Dirgantara7.com // Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melakukan kunjungan ke Kota Bogor untuk mempelajari keberagaman dan toleransi yang ada di Bogor.

Kunjungan dari mahasiswa se-nusantara tersebut diterima langsung Wali Kota Bogor, Bima Arya di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Sabtu (25/11/2023).

Dihadapan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini, Bima Arya mengisi sesi inspirasi dengan tema strategi pemimpin Kota Bogor dalam menjaga kerukunan dan keberagaman etnis masyarakat di Kota Bogor.

Tak hanya itu, Bima Arya juga bercerita tentang penyelesaian persoalan-persoalan yang sempat menjadikan Kota Bogor sebagai kota Intoleran yang kemudian diselesaikan secara bersama dengan Forkompinda, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan masyarakat dan berbagai stakeholder lainnya.

Menurut dia, menjadi wali kota tidak hanya bertugas membangun kota, tapi juga membangun manusia.

“Membangun manusia jauh lebih penting tetapi juga jauh lebih complicated, lebih rumit daripada menata kota. Menata kota itu rumit, ngurusin sampah, ngurusin PKL, ngurusin jalan, ngurusin banjir,  itu nggak mudah, tapi jauh lebih tidak mudah lagi membangun manusia,” kata Bima Arya.

Sebelum mengikuti pemilihan wali kota pada tahun 2012, dirinya melihat ada sesuatu yang harus dibenahi di Kota Bogor, karena Bogor ketika itu berkembang ke arah yang tidak cocok dengan jumlah penduduk yang terus bertambah.

“Saat saya kecil Bogor itu jumlah penduduknya sekitar 400 ribu penduduk, kemudian ketika saya kuliah itu bertambah 700 ribu dan hari ini penduduk Kota Bogor 1,1 juta,” katanya.

Saat ini Kota Bogor bukan hanya dihuni oleh orang-orang ‘senior’ Bogor, tapi juga para pendatang dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya serta dari luar pulau Jawa.

Sehingga kota yang luasnya tidak bertambah ini memiliki kepadatan yang cukup padat seiring meningkatnya jumlah penduduk.

“Jadi luasnya tetep, orangnya menambah, kepentingannya nambah. Kalau nggak dilayani semua dengan adil, maka akan terjadi persoalan-persoalan. Disitulah saya bilang enggak mudah membangun manusia, orang dengan latar belakang yang berbeda beda,” jelasnya.

Selanjutnya Bima Arya juga memaparkan terkait penyelesaian-permasalahan gereja Yasmin yang saat itu membuat Kota Bogor dicap sebagai kota intoleran.

“Saya gak terima, karena Bogor itu DNA-nya DNA yang cinta keberagaman dari masa ke masa. Ada vihara, ada gereja, ada masjid di pusat kota dan semua berdampingan terus,” katanya.

Sebagai wali kota, Bima Arya pun berhati-hati dan mencari akar permasalahannya yang kemudian dilakukan berbagai dialog dan diskusi dengan membuka semua opsi penyelesaian, hingga akhirnya persoalan gereja Yasmin selesai dengan dihibahkannya lahan dari Pemerintah Kota (Pemkot) untuk membangun gereja.

Menutup sesi pemaparannya, Bima Arya menyampaikan bahwa Pemkot bersama unsur Forkopimda dan berbagai stakeholder secara bertahap mengirimkan pesan kepada semua penduduk bahwa semua berdiri untuk melayani semua tanpa terkecuali, karena ini kota untuk semua.

Kedatangan para mahasiswa dari berbagai wilayah ini merupakan Kunjungan Para Peserta Program pertukaran Mahasiswa Merdeka angkatan 3 tahun 2023 di Universitas Djuanda.

Koordinator Program Pertukaran Mahasiswa dari Universitas Djuanda, La Ode Amril mengatakan bahwa maksud dan tujuan kegiatan ini adalah melaksanakan program arahan dari pemerintah pusat melalui Kemendikbud Ristek dengan program pertukaran Mahasiswa Merdeka yang dicanangkan sejak 2020.

“Jadi sesuai instruksi pak Mendikbud Ristek yang menginstruksikan kepada seluruh universitas untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka yang salah satunya adalah melaksanakan pertukaran pelajar dimana Universitas Djuanda juga ikut berkontribusi berpartisipasi dalam program tersebut,” katanya.

Kegiatan ini diikuti oleh 68 mahasiswa dari 35 perguruan tinggi se-Indonesia

“Jadi mereka ini melakukan pembelajaran menetap dan tinggal di asrama selama 4 sampai 6 bulan,” katanya.

Ada berbagai kegiatan program yang diikuti, diantaranya menjaga persatuan dan kesatuan, keberagaman dan toleransi, kebhinekaan, inspirasi, refleksi dan kontribusi sosial.

(Dede Hanapi)