Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Beritaormas

Pertemuan Ilmiah IDI, Bima Arya Minta Perbanyak Riset Siapkan Generasi Emas

buserdirgantara7
186
×

Pertemuan Ilmiah IDI, Bima Arya Minta Perbanyak Riset Siapkan Generasi Emas

Sebarkan artikel ini
Img 20221008 Wa0133

Bogor,–Dirgantara7.com | Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-XIV di IPB International Convention Center (IICC) yang dibuka Wali Kota Bogor, Bima Arya, Sabtu (8/10/2022).

IMG-20221008-WA0134

Dalam sambutannya, Bima Arya meminta untuk memperbanyak riset tidak hanya di bidang kesehatan saja, tetapi di bidang lainnya agar Indonesia tidak menjadi ‘pengekor’ dan dalam upaya menyiapkan Generasi Emas 2045.

“Ke depan kita perlu riset, karena target kita adalah 2045 Indonesia Emas. Tapi kembali lagi kondisi saat ini, bisa tidak kita menjemputnya. Riset untuk menguatkan langkah agar kita tidak selalu menjadi pengekor. Riset itu tidak hanya ilmu kedokteran semata, semua bidang. Sehingga akan lebih mudah melangkah jika kita memiliki data,” katanya.

Selama dua tahun pandemi menurutnya, semua ‘lesson learned’ dan semua belajar banyak. Satu hal yang diamati adalah kecenderungan selalu ‘pengekor’ dan ‘serba gelap’, selalu mengikuti apa yang negara lain lakukan berdasarkan riset.

Bima Arya menyampaikan, ada satu fenomena menarik ketika giat Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN), dimana capaian BIAN Kota Bogor ada di 17 se-Jawa Barat dan Kota Bandung ada di posisi terakhir.

Sementara capaian imunisasi lebih tinggi justru ada di daerah-daerah rural atau pedesaan, seperti di Pangandaran, Ciamis dan wilayah lainnya.

Untuk mengetahui hal itu bisa terjadi, diperlukan riset agar metode yang dipilih cocok sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi bisa selesai.

“Ke depan kita butuh riset-riset lainnya, jangan sampai menembak nyamuk pakai meriam dan jangan sampai juga musuh datang kita tidur. Jadi based on scientific research. Karena ini untuk menyambut bonus demografi, jika tidak disikapi dengan benar akan lepas. Berbusa-busa kita teriak target ke depan, tapi imunisasi saja tidak selesai,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, ada 1.300 dokter di Kota Bogor. Tercatat, jumlah dokter di Indonesia 25 persennya ada di Jawa Barat.

“Luar biasa, dengan kuantitas segitu harusnya kualitas kesehatannya sesuai. Hari ini saya senang ada disini untuk menyemangati, memotivasi dan Insya Allah berkolaborasi. Pemkot Bogor bersama teman-teman dokter menatap masa depan dengan berkolaborasi,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia mengungkapkan saat ini semua ada di fase yang disebut para pemimpin dunia sebagai fase The Edge of Uncertainty (era ketidakpastian), dimana semua sangat bisa berubah dalam hitungan yang cepat.

Semua diminta untuk hati-hati. Pasalnya, banyak tren yang terjadi diluar dugaan dan diluar prediksi, diantaranya pandemi wabah Covid-19, perang, penyakit cacar monyet hingga kenaikan BBM.

Pemerintah pusat dalam arahannya kepada para kepala daerah selalu diingatkan untuk berkolaborasi karena referensi serba terbatas. Padahal semua harus antisipasi menghadapi perubahan yang serba cepat dan semua tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan.

Terakhir Bima Arya menekankan, ke depan tentunya Kota Bogor perlu banyak riset, bukan riset untuk komersialisasi, tetapi untuk memperbaiki kebijakan publik, termasuk kebijakan kesehatan, sistem rujukan yang paling efektif, asuransi dan yang lainnya.

Ketua IDI Provinsi Jawa Barat, Eka Mulyana menuturkan, ilmu kedokteran bukan seperti matematika. Pasalnya, perubahan dan penemuannya sangat cepat sekali. Untuk itu melalui kegiatan ini para dokter dituntut untuk tidak berhenti disitu saja tetapi terus mengembangkan keilmuan dan pengetahuannya.

Disamping itu, IDI bersama organisasi profesi kesehatan lainnya tengah membahas dan memperjuangkan isu-isu yang sedang hangat dalam rangka RUU kesehatan maupun terkait Omnibus Law. Dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan pelayanan kesehatan, sehingga berkeadilan tidak hanya untuk masyarakat sebagai penerima layanan kesehatan tetapi juga tenaga kesehatan lainnya memberikan kontribusi yang berkeadilan.

Ketua IDI Kota Bogor, Ilham Chaidir menjelaskan, pelaksanaan PIT di Kota Bogor dihadiri cukup banyak peserta dibandingkan daerah lain.

Banyak hal yang telah dilakukan panitia untuk meningkatkan kapasitas dan hal lain dari seluruh anggota IDI Kota Bogor dari sisi keilmuan dan pengetahuannya.

PIT kata Dirut RSUD Kota Bogor ini merupakan amanat undang-undang kedokteran untuk mengupgrade para anggotanya, mulai dari ilmu kedokterannya, kecakapanya, skillnya dan lainnya agar mampu memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat.

Terkait riset yang ditekankan Bima Arya, saat ini penemuan di bidang kedokteran sangat cepat sekali. Penelitian yang baru harus bisa di improve dan menjadi seorang dokternya itu harus continuous improvement dam selalu mengembangkan diri.

“Setiap 3 menit ada penemuan ilmu kedokteran seluruh dunia, jika tidak mengikuti akan tertinggal dan terlindas oleh perubahan. Cara-cara baru terutama fungsi dari kewajiban dokter adalah mengembangkan keilmuannya, khususnya dalam melakukan penelitian atau riset. kalau bisa memang berdasarkan data, sehingga mampu memberikan sumbangsih bagi dunia kedokteran,” jelasnya.

Ketua Panitia PIT XIV IDI Kota BOGOR, Iqbal Ichsantyadi Awang menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini bertujuan untuk menjaga marwah profesi para anggotanya berupa mempertahankan standar keilmuan dan pengetahuan.

Tema Current Evidence Based Update on Chronic Degenerative Disease Management kata Iqbal, difokuskan pada re-deteksi dan long treatment sebagai suatu bentuk sinergi IDI dengan sistem kesehatan secara umum di Kota Bogor terkait masalah yang cukup besar yaitu penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular yang spektrum dan dampaknya cukup luas di Kota Bogor.

Acara yang berlangsung 8 dan 9 Oktober 2022 ini diikuti diikuti 542 peserta. Untuk sesi simposium tercatat ada 14 perhimpunan yang berpartisipasi.

(Apud Saepudin)