Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Nasional

Predator Seks di Garut, Sebelumnya Pernah Mengalami Jadi Korban Pencabulan

buserdirgantara7
108
×

Predator Seks di Garut, Sebelumnya Pernah Mengalami Jadi Korban Pencabulan

Sebarkan artikel ini
Img 20230604 Wa0185

Garut, Buserdirgantara7.com – Akibat terjadinya Kekerasan yang sebelumnya dia alami. Pada akhirnya AS, seorang pria berumur 50 tahun harus mendekam di penjara, karena dilaporkan mencabuli belasan bocah lelaki. Namun tak disangkan, bahwa AS ternyata sebelumnya pernah menjadi korban pencabulan. Beberapa hari ini, diketahui. AS diringkus personel Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Garut belum lama ini, di rumahnya yang berada di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa-Barat.

Waktu itu. AS ditangkap, usai dilaporkan seorang tetangganya, karena diduga telah melakukan aksi pencabulan terhadap anak lelaki pelapor, yang masih berusia sekitar 9 tahun.

Sedangkan pada saat usai diamankan dan diinterogasi polisi, AS koperatif dan mengakui perbuatannya. Dia mengaku mencabuli tak hanya seorang bocah lelaki saja.

“Berdasarkan hasil pendalaman, jumlah korban seluruhnya ada 17 orang. Rata-rata berusia 9-12 tahun,” ungkap Kasat Reskrim Polres Garut AKP Deni Nurcahyadi.

Dikatakan Deni, AS ini sudah mencabuli belasan bocah itu ketika sedang belajar bersamanya. AS mengklaim diri sebagai guru mengaji. Tapi, polisi menyebutnya sebagai guru home schooling.

“Ini belum bisa kita katakan sodomi, karena masih menunggu hasil visum. Tetapi, yang jelas tersangka melecehkan korban dengan cara menempelkan alat kelaminnya ke pantat korban. Ada juga yang dipaksa untuk mengulum kelamin tersangka,” imbuhnya.

Namun terkait dengan profesi AS sendiri, Majelis Ulama Indonesia kemudian melakukan penelusuran. Hasilnya, MUI memastikan jika AS bukanlah ustaz, atau guru ngaji. Menurut Ketua MUI Garut KH Sirojul Munir, AS mengklaim diri sebagai guru ngaji untuk melancarkan aksi kejinya.

“Ya benar, jadi dia menasbihkan dirinya sebagai guru ngaji hanya sebagai modus operandi saja untuk mencabuli korbannya,” ungkap Munir.

“Kami juga sudah menelusuri latar belakang, kemudian dasar keilmuan yang bersangkutan. Kami memastikan dia bukan ustaz atau guru ngaji. Hanya klaim saja,” kata Munir menambahkan.

Pelaku Korban dari Oknum Guru
Aksi pencabulan dengan dalih sebagai guru mengaji ini, dikecam oleh berbagai kalangan. Kementerian Agama (Kemenag) sangat menyayangkan aksi itu bisa terjadi, dan meminta agar para orang tua lebih waspada.

“Kami mengimbau, agar masyarakat lebih waspada. Jika ingin menyekolahkan anaknya untuk belajar agama, silakan berkonsultasi dulu. Dilihat apakah kredibel atau tidak dan lain sebagainya. Supaya tidak terjadi hal-hal seperti ini,” kata Muhtarom dari Kantor Kemenag Kabupaten Garut.

Tapi, fakta mencengangkan dalam kasus ini, tak hanya sekadar itu. Yang lebih mengerikan, berdasarkan pendalaman yang dilakukan pihak kepolisian, AS dulunya diketahui sebagai mantan korban pencabulan juga.

Aksi cabul yang menimpa AS ini, diterimanya saat dia berusia remaja. Kala itu, menurut pengakuannya kepada penyidik, dia dilecehkan oleh gurunya sendiri.

Pernah Terjadi Pada Bocah Kembar Mantan Korban Pencabulan

Fenomena korban pencabulan yang kemudian menjadi pelaku, bukan kali ini saja terjadi di Kota Dodol. Di awal tahun 2023 lalu, publik juga dikejutkan dengan kabar aksi sodomi yang dilakukan oleh remaja kembar asal Kecamatan Cibatu, terhadap bocah di bawah umur.

Kedua pelaku yang merupakan adik-kakak itu, juga diketahui sebagai mantan korban pencabulan di masa lalu. Hal tersebut sempat dibenarkan oleh kuasa hukum para pelaku, Evan Saepul Rohman saat dikonfirmasi Buserdirgantara7.com beberapa waktu lalu.

“Iya benar, kembar. Dua anak ini dulunya pernah menjadi korban juga,” kata Evan.

Kata Psikolog

Lantas, kenapa sebenarnya aksi sodomi semacam ini, menjadi siklus yang mengerikan. Kenapa beberapa korban beralih menjadi pelaku, usai menerima kekerasan seksual?

Psikolog dari Wahana Bahagia Garut, Riscka Fujiastuti punya pandangannya. Menurut Riscka, ada dua hal yang melatarbelakangi seseorang melakukan aksi sodomi, jika dilihat dari sudut pandang psikologi.

“Pertama memang dia korban pelecehan di masa kecil. Kedua, biasanya karena tontonan atau aktivitas pornografi yang selalu AS Konsumsi,” ujar Riscka kepada Buserdirgantara7.com Minggu,(04/062023).

Riska menyebut, bisa saja hal ini sebagai balas dendam bisa menjadi pemicu seorang korban sodomi menjadi korban di kemudian hari. Tak hanya itu, korban sodomi ingin mengupas luka di masa lalunya dengan cara melampiskan kepada korban yang lain.

“Mungkin saja adanya pemberian dan adanya pembalasan dendam atau mengupas luka batinnya dengan cara dia melakukan aksi sodomi tersebut terhadap orang lain,” terangnya.

Ada beragam hal berbahaya, yang bisa dialami korban maupun pelaku dari aksi sodomi ini. Mulai dari terjangkit penyakit seksual menular, hingga mengalami tekanan batin.

“Bisa memiliki kecenderungan untuk takut, untuk bersosialisasi lagi,” tutur Riscka.

Menurut Riscka sendiri, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, parenting adalah kunci, agar para korban sodomi tidak malah menjadi pelaku di kemudian hari.

“Sarannya adalah parenting. Apabila kita sudah mengetahui anak kita adalah korban dari sodomi, atau malah anak kita adalah bagian dari pada pelaku, si sodomi tersebut, baiknya adalah dilakukan parenting secara berkelanjutan dengan para ahli,” katanya.

“Kalau bisa, ya segera diterapi apa yang cocok untuk mereka. Mulai dari perilakunya, emosi, kemudian traumatik apa yang menjadikan mereka seperti ini. Selain itu, dibenahi juga kondisi keluarga yang bisa lebih safety menjaga anaknya,” tandasnya. ( Diky )

Img 20240526 223458
Img 20240526 223458